" /> KPDI ke-10 : Peran Digital Library Bagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan – Perpustakaan Universitas Siliwangi

KPDI ke-10 : Peran Digital Library Bagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Lombok, NTB—Sebuah bangsa akan maju dan besar
manakala perpustakaan berkembang dinamis sesuai dengan masanya, dan
didalamnya ada para pustakawan yang kompeten dan mampu bertansformasi
sebagai The Guardian of Knowledge di dalam konteks universal.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) membuka peluang
bagi setiap perpustakaan konvensional untuk mulai membangun koleksi
bahan perpustakaan digital untuk dilayankan kepada pemustaka. Saat ini
pengembangan jejaring perpustakaan digital dianggap sudah memiliki
dampak terhadap kehidupan masyarakat secara luas melalui berbagai peran,
salah satunya menunjang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 2030.

TPB memiliki 17 aspek universal. Perpustakaan digital berperan
penting dalam penyediaan akses ke informasi, sarana teknologi dan
komunikasi, pemanfaatan informasi kepada masyarakat, serta pelestarian
informasi bagi generasi berikutnya. “Digitalisasi amat penting untuk
mengembangkan inovasi. Tanpa inovasi, sulit negara akan maju. Di
beberapa negara, perpustakaan merupakan jantungnya peradaban,” imbuh
Sekretaris Daerah NTB Rosyadhi Sayuthi sebelum membuka penyelenggaraan
Kongres Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-10 di Lombok, NTB,
Selasa, (7/11).

Dalam suatu kesempatan, Kemenristekdikti meminta setiap perguruan
tinggi untuk mendigitalisasikan semua resource yang dimilikinya. Meski
diakui biaya hal tersebut tidak murah. Nantinya semua hasil dari
pengembangan resource di lingkungan perguruan tinggi akan dipusatkan di
Perpustakaan Nasional. Setiap muatan informasi yang terdapat dalam
resource mempengaruhi kemampuan sumber daya manusia.  “Saya berharap
KPDI dapat merumuskan tujuan yang lebih rinci dari TPB. Harus bisa
merancang program untuk menaikkan, menurunkan, atau mengembangkan tujuan
pembangunan berkelanjutan, termasuk tujuan literasi,” tambah Sekda.

Namun, muncul kebimbangan apakah teknologi digital akan berdampak
pada menurunnya angka kunjungan pemustakan dan masyarakat yang datang ke
perpustakaan?. Ini yang menjadi tugas besar dari para pustakawan untuk
mengubah paradigma perpustakaan. “Harus ada redefinisi tentang
perpustakaan,” terang Kepala Perpusnas Muh. Syarif Bando. Perpustakaan
tidak lagi menghitung berapa jumlah kunjungan melainkan sudah seberapa
jauh perpustakaan memanfaatkan teknologi.

Kekhawatiran berikutnya, apakah generasi milenial masih merasa perlu
memanfaatkan perputakaan? Generasi milenial bukanlah generasi pejuang.
Mereka lebih tertarik mendapatkan kebutuhan membacanya lewat media
sosial ataupun sistem pencari, seperti google, wikipedia, dan
sebagainya. “Maka, tugas kita adalah menyerbu media-media sosial dengan
informasi-informasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka atau mengisinya
dengan buku-buku digital yang full text,” lanjut Syarif Bando. Di
tambahkan Syarif, inovasi mutlak diperlukan oleh siapapun. Kemampuan
inovasi adalah kemampuan yag tidak bisa dilakukan komputer. Dengan kata
lain, keaktifan membaca memegang andil terhadap kemampuan berpikir
manusia.

Konferensi Perpustakaan Digital merupakan forum berskala nasional
sebagai wadah bagi pustakawan dan penyelenggara perpustakaan di
Indonesia bertukar pikiran dan pengalaman tentang berbagai aspek
perpustakaan digital. KPDI ke-10 menghadirkan 20 pembicara dari Kemenko
PMK, Kemenkominfo, Kemenristekdikti, LIPI, dan Badan Ekonomi Kreatif
(Bekraf), yang diikuti lebih dari 700 peserta dari pengelola
perpustakaan, pustakawan, tenaga perpustakaan, akademisi, peneliti,
pengajar, dan mahasiswa.

Pada kesempatan yang sama, Perpustakaan Nasional melakukan nota
kesepahaman (MoU) dengan 13 Perguruan Tinggi. Ruang lingkup MoU menyasar
pada pengembangan sumber dya manusia di bidang perpustakaan,
pengembangan TIK, pengembangan pangkalan data katalog induk nasional
(KIN) dan repository Indonesia One Search (IOS), pengembangan dan
pemanfaatan bersama koleksi perpustakaan, serta penghimpunan dan
pelestarian KCKR.

Ke-13 perguruan tinggi tersebut, antara lain Universitas Respati
Indonesia, Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Universitas Muhammadiyah
Makassar, Universitas Muslim Indonesia, Universitas Siliwangi Akademi
Akuntansi Riau, Politeknik Negeri Jakarta Politeknik Negeri Manado,
Politeknik Ilmu Pelayaran Makassar, STIMA IMMI Jakarta, STMIK AKBA
Makassar, STAIN Curup Bengkulu, dan STIE Perbanas Surabaya.

Reportase ; Hartoyo Darmawan

 
Sumber : https://www.perpusnas.go.id/news-detail.php?lang=id&id=171207084206yNpldAhKrO